Self Control

Sebenarnya, postingan saya yang pertama pengennya materi liqo kemaren tentang fiqh sholat. Tapi karena materi ini lebih pas. Pas banget. Pas dengan keadaan saya sekarang.

Minggu kemarin saya mendapat pembahasan liqo tentang self control, lalu kamis kemarin saya mengikuti pengajian bulanan kantor yang membahas tentang “Cerdas dalam padangan Islam”. Materi ini sangat menarik untuk saya. Mengingat mood saya yang naik turun dan juga emosi saya yang masih meletup2.. hiks..

So, saya akan menyatukannya ya pemirsa semoga bermanfaat untuk kalian semua.. So, here we gooo..

Cerdas dlm pandangan islam dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Mengendalikan hawa nafsu

Orang cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jadi percuma punya IQ tinggi, IPK tinggi tapi kita ga bisa mengontrol emosi kita, tutur kata kita, sikap kita, hasilnya big no no. Brati kita bukan termasuk orang cerdas.. #jleb #jleb #jleb

2. Ingat mati

Kalau kita ingat-ingat mati, mau berbuat macem-macem juga jadi mikir lagi. Ngapain yaaa.. toh di dunia ini sebentar banget, ngapain juga macem2, mending memperbanyak bekal untuk mati nanti .

Sukses diselamatkan dari apa neraka.

 الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  ﴿آل عمران:١٦﴾

“(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”

3. Smangat cari bekal setelah mati

Buat muda mudi seperti saya, parameter sukses itu hampir semua bersifat duniawi namun tidak diimbangi dengan akhirat. Kita hanya berfikir bagaimana hidup enak, makan enak, punya rumah, mobil tabungan cukup, pendidikan tinggi, investasi dimana2. Semua itu boleh tapi harus diimbangin dengan bekal setelah mati. Bagaimana caranya? Dengan membelanjakan harta mereka di jalan Allah. Kisah yang patut kita jadikan teladan tersebut adalah kisah sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu yang kayaa dunia dan akhirat.

Utsman bin Affan adalah seorang saudagar yang kaya raya dan seorang khalifah, amirul mukminin, bersamaan dengan itu beliau juga seorang yang dermawan dan terbiasa hidup sederhana. Yunus bin Ubaid mengisahkan bahwa al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang para sahabat yang tidur qailulah (istirahat di pertengahan siang) di dalam masjid. al-Hasan menjawab, “Aku melihat Utsman bin Affan tidur qailulah di Masjid, padahal saat itu dia sudah menjadi Khalifah. Setelah bangkit, bekas kerikil terlihat menempel di pinggulnya. Kami pun berkata, Lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin; lihatlah, dia adalah Amirul Mukminin.” (HR. Ahmad).

Adapun kisah tentang kedermawanannya dan berharap pahala akhirat dari amalan tersebut salah satunya Membeli Sumur Untuk Kepentingan Kaum Muslimin

Tatkala rombongan kaum Muhajirin sampai di Madinah, mereka sangat membutuhkan air. Di sana terdapat mata air yang disebut sumur rumah milik seorang laki-laki dari bani Ghifar. Laki-laki itu biasa menjual satu qirbah (kantong dari kulit) air dengan satu mud makanan. Melihat hal ini, Rasulullah bertanya kepadanya, “Sudikah kamu menjualnya dengan ganti satu mata air di surga?” Laki-laki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya apa-apa lagi selain sumber air ini. Dan aku tidak bisa menjualnya memenuhi permintaan Anda.”

Pembicaraan tersebut didengar Utsman bin Affan. Tidak lama kemudian, ia membeli sumur tersebut dengan harga 35.000 dirham. Selanjutnya, dia menemui Nabi dan bertanya, “Akankah aku mendapatkan mata air di surga seperti yang Anda janjikan kepada laki-laki dari bani Ghifar tadi?” Beliau menjawab, “Tentu” Utsman pun berkata, “Kalau begitu, biarlah aku yang membelinya, dan aku mewakafkan untuk kaum muslimin.” (Siyar A’lamin Nubala, 2/569).

Utsman bin Affan benar-benar mengharapkan pahala akhirat dari pemberian yang ia lakukan. Inilah contoh pemberian yang dilakukan oleh Utsman bin Affan yang kesemuanya dimotivasi oleh balasan surga, bukan balasan dunia. Hendaknya kita pun demikian, ketika bersedekah dan memberi kita hadirkan niat akhirat di hati kita, bukan niat mencari kekayaan materi dunia.

dikutip dari sini

~~~

Nah agar kita menjadi manusia cerdas menurut Islam, Prof Zakiah Daradjat, adalah seorang pakar psikologi Islam memberikan beberapa teorinya.

I. Definisi Self Control

1. Penundaan untuk sementara pemuasan kebutuhan.

Apa saja sih kebutuhan kita? kebutuhan kita terdisi dari 3 yaitu primer, sekunder dan tertier.

  • Kebutuhan primer seperti yang kita tahu yaitu sandang, pangan dan papan.
  • Kebutuhan sekunder seperti pendidikan
  • Kebutuhan tertier seperti liburan.

Nah menariknya disini, kebutuhan tersebut harus dipenuhi semuanya. Tidak hanya concern kepada kebutuhan primer dan sekunder tapi kita juga perlu memenuhi kebutuhan tertier. Karena apa? Jika kita tidak memenuhi kebutuhan tertier seperti liburan maka hidup kita akan stres gilaaaak dikelilingi semua masalah yang ada tanpa ada refreshing. Pengertian liburan disini bukan berarti kita harus travelling ke luar negeri yang mengeluarkan banyak uang. Menurut saya pribadi, titik berat liburan itu bukan kemana-nya tapi apakah membuat kamu bahagia. Banyak loch yang pergi keluar negeri pasang poto di sosmed yang mungkin membuat teman2nya iri tapi kalau ditelaah lagi isi hatinya, sebenarnya dia tidak bahagia.

Kita dapat menemukan kebahagian mungkin dengan sangat sederhana. Seperti jalan-jalan santai di taman kota, olahraga pagi, menghirup udara segar, berbincang bersama pasangan kita atau keluarga. Bahagia itu sederhana looochh.. 🙂 🙂 🙂

Lalu, apa maksudnya penundaan untuk sementara pemuasan kebutuhan. Misalkan setelah dzuhur kita ngantuuuk banget, seharusnya kita bisa tiduuur tapi karna ada keinginan untuk mencicil hafalan, maka kita alokasi waktu kita untuk Muroja’ah hafalan sebanyak 15 menit. Kita menunda sebentar kebutuhan kita (butuh tidur karena ngantuk) untuk sesuatu hal yang lebih bermanfaat..

2. Menyusun, mengarahkan, memilih

Misalkan di hari Sabtu ini kita mendapatkan undangan 4 acara. 1 acara teman kantor kita, 2 acara temen SMP kita, dan 1 lagi acara tetangga kita dalam waktu yang berdekatan sehingga kita tidak bisa menghadirinya semua. Maka kita harus memilih bukan? Nah dari ke-4 orang tersebut manakah yang paling utama, dilihat dari kedekatan kita dengan orang tersebut kalau teman SMP mungkin sudah jarang bertemu ya sudah nanti saya, tentu kita dahulukan tetangga kita.

Allah SWT secara tegas telah memerintahkan supaya kita berbuat baik kepada “tetangga”, seperti yang telah difirmankan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 36 : “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, “tetangga” yang dekat dan“tetangga” yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kalian……..”

Yang dimaksud dengan “tetangga” yang dekat” adalah “tetangga” yang masih ada hubungan nasab (darah) atau ikatan agama. Sedangkan “tetangga” yang jauh” adalah yang tidak ada hubungan darah atau ikatan agama. Adapun “teman sejawat” adalah teman dalam hal kebaikan. Oleh karena itu, setiap orang yang ber“tetangga” dengan orang Muslim mempunyai hak ke“tetangga”an, walaupun tidak ada hubungan darah atau ikatan agama.

dikutip dari sini

Setelah menentukan skala prioriotas, lalu langkah selanjutnya adalah kita harus mengkaji lagi manakah dari aktifitas2 tersebut yang lebih bermanfaat, di telaah lagi apakah kegiatan tersebut akan lebih banyak mendatangkan kebaikan atau justru mendatangkan banyak mudharat.

3. Kemampuan menguasai situasi dan kondisiyang ada.

Situasi adalah lingkungan sekitar sedangkan kondisi adalah internal dari diri sendiri. Sudah jelas khan berarti bagaimana kita bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar 🙂

II. Pentingnya Self Control

  • Nilai diri sendiri
  • Karena 75 % kita berinteraksi dengan manusia
  • Supaya kita mencapai tujuan hidup lebih focus. Apa sih tujuan hidup kita? Masuk syurga.

III. Pada saat apa kita harus mengontorl diri

1. Pada saat kondisi yang tidak menyenangkan

2. Pada saat mendengarkan informasi yang tidak ingin kita dengarkan.

Apakah ghibah itu? Jawabannya dapat kita temukan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini : –Rasulullah bersabda, “Tahukan kalian apa itu ghibah?”, mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahi-nya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim)

Nah kalau sebagian orang berpikir gibbah itu ngomongin dibelakang itu salah besar yaaa.. Gibbah  itu hal yang membuat saudaramu tidak suka (menyakiti perasaannya), walaupun kita ngomong di depannya..

Pembahasan ini menjadi panjang, lalu kalau begitu misalkan si A curhat ke B tentang si C juga termasuk gibbah dong. Jika curhat ke B yakin dapat memberi solusi, maka di perbolehkan, tapi jika tidak mendapatkan solusi lebih baik tidak perlu diceritakan karena jatuhnya gibbah. Intinya berceritalah ke pada seseorang yang kira-kira capable untuk perkara yang akan kita curhatin. Jika tidak keep silent  🙂

Oleh karena itu, sekarang saya lebih memilih menghindari orang-orang yang mugkin berpeluang membuat saya bete, ntah itu sikapnya, ntah itu perkataannya. Berinteraksi seperlunya jika ada kepentingan saja dan jika bisa membantu ya dibantu. Hehe.. Saya ga mau dekat-dekat, bukan memilih teman, cuma saya mau menjaga hati saja supaya tidak ada penyakit hati, kesel-kesel atau marah-marah ga jelas. 🙂 🙂 🙂 Ibu saya pernah berkata, jika berteman, bertemanlah kepada teman yang lebih banyak mendatangkan kebaikan, jika kita masih belum kuat iman sebaiknya menghindar, karena jika mendekat kepada yang kurang baik khawatir kita yang ikut terbawa arus.. Salah satunya juga untuk menghindari gibbah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Nah kalau sudah mendengarkan informasi yang tidak ingin kita dengar, apa langkah selanjutnya?

a. Kata siapa?

Ayo cek ricek lagi, kata siapa? orangnya seperti apa?

b. Tabayun

Ketika mendapatkan informasi, sebagai muslim kita harus kroscek kembali, tidak boleh menelan mentah2. Walaupun ada suatu perkara yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri nampak negative, namun alangkah lebih baiknya jika kita bertanya dengan kepala dingiin kepada tersangka. Karena apa? Apa yang kita pikirkan belum tentu seperti kondisi nyatanya, maka tabayun lah (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya), jangan membuat kesimpulan sendiri.. Barangkali maksud tersangka tersebut adalah untuk kebaikan anda juga dan demi menjaga perasaan anda 🙂

c. Memilih tindakan apa yang akan kita lakukan.

Setelah tabayun, maka kita dapat menetukan apa yang akan kita lakukan..

Sekian rangkuman saya. Semoga bermanfaat, semoga bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari2 🙂 🙂 🙂 Semangat berproses menjadi lebih baik..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s