Nikmat Yang Terlupakan

Saya suka bertemu dengan banyak orang, berbincang, mendengarkan kisah hidup mereka. Karena dengan berbicara, brainstorming saya mendapatkan pelajaran tanpa harus mengalaminya sendiri. Hal yang sama seperti yang pernah dilontarkan kepala divisi saya di ForumDoaPagi.

Baiklah, here we go..  Saya akan mulai bercerita..

Disclaimer : tidak bermaksud apa-apa (riya red) hanya sharing baik dari interview langsung, baca buku, atau pengalaman pribadi, agar kita dapat mengambil ibrohnya. Nikmat-nikmat yang sering kita lupakan.

Pertama, Kebebasan Menggunakan Hijab.

hijab-demo-17jan04-741

gambar dari sini

Peristiwa ini terjadi ketika saya sedang itikaf 10 malam terakhir di BI tahun ini. Itikaf merupakan agenda tahunan sejak kuliah bersama teman-teman dekat saya. Beberapa dari mereka sudah pada pulkam dan alasan lain sih pengen lebih konsen aja mengurangi hahahihi, jadilah saya nekad itikaf sendiri dengan membawa baju untuk beberapa hari kedalam ransel. Karena sendiri mau gak mau harus menyesuaikan diri, setidaknya kenalan basa-basi tetangga kiri kanan, biar kalo mau keluar bentar bisa nitip ‘lapak’. Hehe..

Setelah mandi pagi, di blakang ‘lapak’ saya ada seorang wanita dan ketiga anaknya. Beliau terlihat masih sangat muda untuk ukuran ibu-ibu yang sudah mempunyai 4 orang anak, yang mana anak sulungnya sudah duduk di bangku SMU. Wanita itu tersenyum kepada saya dan ia pun memulai pembicaraan. Pertanyaan standar yang kami lontarkan mulai dari darimana, tinggal dimana, kuliah dimana, kerja dimana, orang mana, dan keluarga. Ibu ini memang ramah, mudah cair dengan orang sehingga pembicaraan pun mengalir begitu saja.. Pembicaraan yang begitu berkesan adalah ketika beliau bercerita tentang bagaimana perjuangannya menggunakan hijab saat itu. Topik ini muncul karena beliau melihat jaman sekarang dengan mudahnya muslimah membeli hijab dan baju muslim bahkan dengan segala model.

~~~

Saya khan anak jaman dulu ya mbak, dulu mau pakai jilbab itu penuh perjuangan. Saya tuh dulu pingiiin banget pake hijab pas SMA, tapi ibu dan bapak saya bilang, aduuhhh ngapain nanti kamu kena aliran sesat lagi.. Udah udah ga usah, nanti susah jodohnya. Apalagi dulu itu pake hijab itu masih dianggap tabu. Pas SMA, kebetulan  saya sekolah di SMA Nurul Fikri mbak, terus ikut-ikut pengajian, jadi tau.. Oohh gitu toh oooh gini tooh jadi makin kuat pengen pake hijab.

Akhirnya saya bernegosiasi dengan ibu saya, “Ibu, saya khan ga pernah minta apa-apa, gimana kalau saya lulus PTN ibu kasih saya hadiah? “

“Ooohh iya apa tuh nak?”, jawab sang ibu.

“Iya bu.. Gimana kalau saya masuk PTN, ibu bolehin saya pake jilbab?”. Lalu stelah dipikir-pikir untuk menyemangati anaknya, si ibu mengiyakan permintaan anaknya.

Akhirnya tahun 1993 saya keterima di FKG UI mbak, dan karena ibu saya terlanjur janji, sang ibu langsung menepatinya. Saya dan ibu saya langsung ke toko bahan mbak untuk membeli kain lalu di neci. Dulu, kalau saya mau beli rok , blouse longgar apalagi gamis susahnya minta ampun. Coba bandingkan jaman sekarang, kita dengan mudahnya tinggal ke ITC atau Tanah Abang dapet deh. Hehe..

Perjuangan saya ga sampai disitu mbak.. Setelah ngampus, di fakultas saya kebetulan sebagian besar anak rohis mbak. Semua berjilbab panjang dan mengunakan rok lebar. Namun inget ga, dulu tahun 90an, ada larangan menggunakan jilbab, sehingga kami harus berdemo ke fakultas hanya agar diperbolehkan memakai jilbab.

Lalu ibu di samping kami pun, yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kami menimpalinnya.

Iya dek bener. Dulu jaman kami malah adanya larangan memakai jilbab untuk foto ijazah, SKKB, SIM. Jadi poto-nya masih memakai jilbab tapi kedua telinga harus terlihat. Lucu banget khan. Sambil tertawa miris.

~~~

Mashaa Allah saya cukup tertegun mendengarkan cerita tersebut. Sebenernya ini bukan kali pertama saya mendapat cerita ‘live’ mengenai seorang muslimah yang berjuang untuk menggunakan hijab. Teman saya, permintaan berhijab saat SMU kepada orangtuanya ditolak mentah-mentah. Namun ia nekad, jilbab pertamanya diberikan oleh temannya. Lalu setiap pulang kerumah, jilbab yang sudah digunakannya dibuang oleh orangtuanya. Astagfirullah. Tapi manusia bisa apa sih, karena Allah-lah Sang Maha Pembolak Balik hati manusia. Allah punya hak preogratif untuk memberikan hidayah kepada orangtuanya sehingga akhirnya orang tuanya akhirnya paham dan memperbolehkan.

fabiayyi ala irobbikuma tukadziban..

Keinginan menggunakan jilbab pun ketika saya SMU, saat itu kakak saya kuliah di ITB yang rata-rata temannya berhijab. Saya seperti anak kecil yang meneliti, mengapa menggunakan jilbab dan saya mulai tertarik. Sempat mengutarakan kepada mama tapi ditolak mungkin karena saya kurang fighting, daripada nanti buka tutup dan juga masih setengah hati. Akhirnya beruntung ketika kuliah saya dipertemukan dengan teman-teman yang membuat saya semakin bulat untuk berhijab. Dan SIB (Surat Ijin Berhijab) pun dikantongi. Alhamdulillah kuliah tingkat 1 setelah lebaran saya berhijab walaupun belum sempurna sampai sekarang.

Itu sebagian contoh di Indonesia, belum lagi saudari-saudari kita diluar negeri yang menjadi kaum minoritas. Beberapa negara di Eropa sana malah terang-terangan melarang memakai jilbab. Kenikmatan ini sering sekali kita lupakan, di sini di Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas islam, dengan mudahnya menggunakan hijab namun mirisnya pergeseran makna bukan sebagai bentuk kesadaran kewajiban seorang muslimah  namun sebagai tren mode saja.

Kedua, Kebebasan Beribadah. 

salaat13

gambar dari sini

Saat ini, saya masih ngekos di samping kantor yang alhamdulillah dekat dengan masjid sehingga suara adzan terdengar dengan jelas. Kita suka ga sadar kalo mendengarkan adzan itu nikmat, ingatnya hanya sebagai tanda mengingat waktu sholat saja. Hal ini yang saya rasakan ketika dinas ke Bali dan ketika saya membaca 99 Cahaya di Langit Eropa.

Hanum, sang penulis 99 Cahaya di Langit Eropa, bercerita bahwa suaminya sangat sulit mendapatkan izin untuk sholat Jum’at ataupun tempat untuk sholat. Rangga adalah salah seorang mahasiswa doctoral di Austria. Karena melalui jalur full scholarship sehingga Rangga mempunyai tanggung jawab untuk mengajar, dengan waktu yang sangat padat. Saat sholat Jum’at, Rangga harus meyakinkan supervisornya bahwa sholat Jum’at adalah ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan. Dang. Coba kita compare disini. Hampir setiap masjid menggelar sholat Jumat. Jarak masjid ke masjid yang lain juga tidak begitu jauh. Belum lagi jam kerja juga menyesuaikan, biasanya dimajukan 30 menit lebih awal dari jam istirahat hari biasa.

Tidak hanya itu, Rangga tidak diperbolehkan sholat dzuhur di ruangan pribadinya. Padahal kalo dipikir selama tidak mengganggu kenapa dilarang yah, tapi ya begitulah peraturannya. Dulu, Rangga pernah tertangkap basah dan langsung kena tegur supervisornya. Pihak kampus hanya memperbolehkan sholat di Okumenischer Raum, ruang ibadah bagi semua agama, yang berukuran 3×3 meter. Bayangkan kita harus sholat di sebuah ruangan yang didalam ruangannya penuh dengan gambar Salib, patung Budha dan kitab berbagai agama lainnya.

fabiayyi ala irobbikuma tukadziban..

Ketiga, Menikmati Panganan Halal.

RELIGION-RAMADAN-ISLAM

gambar dari sini

Wah kalau udah masalah perut itu sudah sensitive. Ekstrimnya, orang bisa bunuh-bunuhan karena masalah perut. Beruntungnya saya tinggal di Indonesia tepatnya di Jakarta, sehingga panganan halal itu sangat mudah di cari. Lah kemarin ketika saya dinas ke Bali, mau cari makan ayam betutu yang ada label halal aja harus muter-muter dulu ampe 45 menit baru nyampe. Belum lagi ketika breakfast di hotel mesti aktif nanya, ada sajian daging asap yang tempatnya kemarin abis dipakai bekas babi panggang. Dang.. Mending off dulu deh makan daging. Cari aman.

Begitu juga tentang cerita Hanum, kalau makan di resto ia hanya memesan roti croissant dan satu cangkir cappucino. Teman saya yang sedang sekolah di Korea juga begitu, terpaksa jadi vegetarian, makan daging ya kalo di resto muslim. Ujung-ujungnya membawa bekal adalah solusi yang paling aman untuk mahasiswa/i di luar negeri.

fabiayyi ala irobbikuma tukadziban..

Keempat, Nikmat Sehat dan Waktu Luang.

nikmat_sehat__waktu_luang

gambar dari sini

Menurut saya inilah nikmat yang paling sering terlupakan. Suka bawel kalo laper, bawaanya sensi, emosi jiwa, brasa mau makan orang #eh. Lebaynya kumat.. Hehe.. Beberapa hari yang lalu saya susah banget buang air. Rasanya menderita banget. Kayak bawa tumpukan daging di badan, pengen banget buang hajat tapi ga bisa. Nah ini nih nikmat yang sering banget terlupakan nikmat sehat salah satunya dengan (maaf) kentut, buang air, bersin. Ada orang yang ga bisa kentut, buang air dan akhirnya di operasi dan keluar banyak uang.

Nikmat lainnya adalah bersin yang saya kutip dari sini.

Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam. Bahkan, Dr Michael Roizen, wellness officer Cleveland clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Untuk itulah, setelah bersin, sejatinya membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Lain bersin, lain pula menguap (tatsâ`ub berarti layu dan malas). Menguap terjadi karena minimnya oksigen dalam tubuh. Biasanya, orang menguap saat kondisi tubuh lelah, malas, bosan, atau mengantuk. Karenanya, Nabi SAW bersabda, “Menguap itu dari setan. Oleh karenanya, jika menguap, tahanlah sebisa mungkin. Sebab, jika orang menguap hingga terucap ‘ha’, setan tertawa menyaksikannya.” (HR Bukhari).

Dan terakhir adalah waktu luang yang saya kutip dari sini.

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Ibnul Jauzi juga mengatakan nasehat yang sudah semestinya menjadi renungan kita, “Intinya, dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti. Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.”

~~~

Allah menguji manusia dengan cara yang beda-beda, ada yang berupa nikmat berlimpah ruah, lalu Allah akan melihat apakah ia bersyukur atau berpaling, kufur dan sombong. Ada juga yang berupa kesulitan, mungkin bisa dibilang never ending ujian, ujian lagi ujian lagi yang bertubi-tubi sampai brasa capek banget dan bikin desperado. Lalu Allah akan melihat apakah ia bersabar dan mendekatkan diri atau malah menyalahkan Allah.

Mungkin kita terlena dengan kenikmatan-kenikmatan yang dengan mudah kita dapatkan. Mungkin juga kita emang terlalu konsen atas ujian yang kita dapatkan seperti misalkan lingkungan ga nyaman, penghasilan kurang, kerjaan banyak, bos rese, jodoh belum dateng, mertua ga koperatif, belum punya anak, anak sakit, belum punya cucu, dan semua problematika hidup. Padahal kalo kita telaah lagi banyak banget nikmat yang terlupakan ya at least cuma buat ngingetin kalo hidup tidak sekelam langit hitam kok.

Jadi semua pilihannya ada di kita, hidup kita mau dibuat seperti apa? 😉

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS Ibrahim [14]: 7).

UPDATE 23 Sept 2015 : Tulisan ini diikutkan dalam IHB Blog Post Challenge.

Advertisements

6 thoughts on “Nikmat Yang Terlupakan

  1. Nikmat sehat dan waktu luang sering kali baru berasa ketika kita kehilangan mereka. Udah sadar tapi masih lalai juga, astaghfirullah.. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung yaa.. bisa menikmati nikmat sehat dan waktu luang untuk mengumpulkan bekal sebanyak2nya buat kehidupan abadi nanti amiiinn. Semungudd! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s