Terus Terang Tak Selalu Terang Terus

Bismillahirrahmanirrahim…

Tulisan ini diambil dari Notes di FB saya yang di publish pada tanggal 26 January 2010.. Semoga bermanfaat untuk saudara/i ku..

MARI_J~1

Benar, bahwa keterusterangan atau keterbukaan (self disclosure) adalah modal penting dalam membangun hubungan antarpersonal. Setidaknya itulah kesimpulan para teorisi psikologi maupun komunikasi. Jika seseorang membuka diri, teman komunikasinya pun akan melakukan hal yang sama. Semakin terbuka, semakin hangat dan akrab. Tapi ceritanya menjadi lain jika keterbukaan ini keblabasan. Jika keterusterangan berarti membuka segalanya, bahkan termasuk aib sekalipun.

Ada gejala salah kaprah dalam memaknai keterusterangan, setidaknya bagi sebagian orang. ‘Terus terang’ dimaknai menceritakan apa saja yang dilakukan atau dirasakannya pada orang-orang tertentu. Bahkan ada perasaan mulia untuk melakukannya, terutama terhadap pasangannya. Alkisah, sepasang suami istri membuat komitmen bersama untuk jujur, menceritakan segala tindakan yang pernah dilakukan meski itu sebuah keburukan, termasuk masa lalu sebelum mereka menikah, awalnya mereka membanggakan tradsi itu “kami adalah pasangan paling fair di dunia ini”. Anehnya, seiring dengan berjalannya waktu, hubungan mereka bukannya tambah hangat, tetapi sebaliknya. Deretan aib yang mereka lakukan dan yang mereka beberkan satu sama lain pada akhirnya menjadi ganjalan hubungan itu.

Ini bukan ajaran utnuk berbohong, tetapi seni mengandalikan omongan. Ada bagian yang harus disampaikan, tetapi ada juga bagian yang lebih baik untuk ditahan. Ekspresif tak harus eksesif. Terbuka bukan berarti bicaranya saja. Komunikasi pada akhirnya merupakan upaya mempertahankan dampak pembicaraan : apakah konstruktif atau sebaliknya?

Itu pula lah yang ditekankan agama. Keselamatan jiwa, perdamainan dan kebutuhan keluarga adalah segalanya. Komunikasi tak boleh merusaknya, tapi justru harus membangunnya. Karena itulah, dalam kondisi tertentu, bahkan berbohong pun diperbolehkan, demi nyawa dan keluarga, sebagaimana dinyatakan sebuah hadist :

“Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengarkan bahwa beliau memberikan rukhsoh (keringanan) dari dusta yang dikatakan manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya.

Ini juga bukan ajakan untuk menutup diri, tapi seni memahami orang. Bahwa ada perasaan orang yang rentan. Bahwa ada tata nilai yang akan menseleksi informasi: mana yang bisa diterima, mana yang tidak. Perbincangan, meski atas nama keterusterangan, jika tidak tepat suasana dan konteksnya, hanya akan menimbulkan luka. Bahkan untuk masalah yang nampaknya sepele.

Tersebutlah seorang pemuda yang akan melangsungkan pernikahan, mengirimkan sebuah pesan singkat (SMS) pada calon istrinya, “Semangat saya untuk menikah tidak sebesar saat masih mahasiswa dulu.” Pesan ini mungkin menggambarkan kejujuran perasaan, tetapi cukuplah membuat si penerima gundah gulana. Bagaimana tidak, setelah semua proses perkenalan dan lamaran, bahkan setelah perempuan itu menolak pinangan laki-laki lain, sang terpilih justru melemahkan semangatnya. Terlepas dari maksud sesungguhnya pesan itu, kasus ini menandaskan sebuah pelajaran bahwa banyak hal yang tidak perlu untuk diungkapkan secara vebal.

Tata nilai menentukan penerimaan kita pada sebuah informasi. Apresiasi kita pada sebuah kejujuran seringkali tak sepadan dengan penerimaan kita pada realitas kesalahan orang. Kita tentu senang jika pasangan kita jujur, tetapi apakah kita bias menerima sewajarnya setelah bersangkutan membeberkan segala aibnya? Siap jugakan memahami isi hati dia yang sesungguhnya? Tak mudah mengabaikan aib, apalagi bagi kita yang sering menilai orang dari kacamata kesempurnaan.

Sungguh absurd ide sebuah reality show yang menawarkan solusi bagi pasangan bermasalah. Setelah semua pihak membeberkan aib masing-masing, setelah semua mengeluarkan isi hati yang seseungguhnya, sehingga yang muncul caci maki dan saling menjelekkan, masihkan mereka berharap solusi? Bukannya memadamkan api, tetapi justru menambahkan minyak pada api.

Beterus terang tak berarti memamerkan aib kita. Cukuplah hadist riwayat Abu Hurairah berikut menjadi renungan :
Aku pernah mendengar Rasullah SAW bersabda :

Semua umatku akan ditutupi segala kesalahnnya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seseorang berbuat dosa di malam hari, kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya) : Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosannya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudaian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya.

Keterusterangan yang tidak pada tempatnya hanya akan merusak alur drama kehidupan yang semestinya indah. Kalau kita bisa memilih peran protagonist, kenapa justru memilih yang antagonis? Kalau kita bisa menyenangkan orang, kenapa pilih yang menyusahkannya? Kalau kita mampu membesarkan hati orang, kenapa justru kita jatuhkan? Semoga hidup kita menjadi terang terus.

-Edi Santoso-
Tarbawi Edisi 220 th. 11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s