BAPAK

bapak

Tak terasa air mata pun menetes di musola pagi ini ketika saya mengingat alm bapak. Hari ini, genap sepuluh tahun bapak meninggal. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMU, tepatnya baru saja naik ke kelas tiga.

Bapak meninggal 40 hari, setelah divonis mengidap penyakit kanker pembuluh getah bening stadium 3. Walaupun bapak sempat di chemotherapy, tapi ya.. kata Allah memang takaran usiaya cuma sampai di 53tahun. Banyak orang yang tidak percaya bapak akan dipanggil secepat itu, karena semasa hidupnya bapak termasuk orang yang sangat aktif berolah raga. Bapak juga menerapkan pola makan yang sehat, tidak suka junk food, selalu makanan sehat seperti sayur dan ikan. Beliau juga orang yang sangat ramah, ceria dan bertangan dingin dalam bercocok tangan, semua tanaman yang ia tanam tumbuh subur. Ah.. saya suka dengan bapak ‘yang ga mau diem’, selalu produktif. 

Kami memang hidup nomaden, pindah dari satu kota ke kota yang lain. Saat SMU, kebetulan saya tinggal di kota mangga, Indramayu. Kami mendapat fasiltas rumah dinas yang dekat dengan tempat bapak saya bekerja dan fasilitas telepon gratis. Fasilitas ini sangat di manfaatkan oleh bapak, sehingga frekuensi menelepon diatas rata-rata. Sehari bisa berkali-kali menelpon saya dan ibu saya (karena saat itu, semua kakak saya saat itu sudah kuliah di kota kembang), hanya untuk menanyakan “Mama, adek lagi ngapain? Udah makan belum?”. Dan saat itu, saya menganggap hal itu tidak begitu penting dan sedikit berlebihan. Saya pun teringat, malam-malam bapak sering bertanya kepada saya, “Dek, tadi belajar apa, ada yang susah gak? Sini bapak lihat atau kalo gak bisa mungkin bisa tanya sama aa atau ceu2.” Ah saya kangen dengan bapak yang sangat-sangat perhatian.

Jujur, saya bahkan semua anak-anaknya menganggap, kalo bapak itu agak sedikit berlebihan. Tapi sekarang, saya rindu, rindu seklai sosok beliau.

Tiba tiba saya teringat dengan cerita bapak yang harus berjalan beberapa kilometer setiap harinya untuk sekolah dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Ah saya suka bapak yang mempunyai semangat juang tinggi.

 

Saya juga teringat cerita bapak ketika pertama kali bertemu dengan ibu saya di takziyah saudara bapak. Saat itu, bapak saya sedang mengadu nasib di Palembang. Kebetulan. ada pamannya bapak atau adeknya nenek saya tinggal disana. Pertama kali melihat mama, bapak langsung suka, karena mama mirip sekali dengan mantan pacarnya, yang sudah menikah terlebih dahulu di Kalimantan. Namun proses tidak semudah itu, tidak kemudian bertemu dan PDKT dan serius dan menikah. Kalo saya ceritakan panjang sekali tentunya. Ya pokoknya, setelah proses panjang, akhirnya mama luluh juga. Segenap aral merintang pun mereka hadapi dan akhirnya mereka menikah tahun 1976. Ah indahnyaaaa… Saya pernah bertanya ke mama, kenapa mau sama bapak, karena jika dibandingkan kulit mereka berdua seperti kopi susu :D. Mama bilang kalo mama suka dengan karakter bapak yang dewasa, ngemong, sopan, perhatian dan bisa bawa diri. Tipe ini pun menurun ke anaknya, saya.

 

Lalu kembali lagi ke peristiwa 10 tahun yang lalu. Ketika bapak sakit, mama dan kakak2 saya jadi tinggal di Jakarta. Karena saat itu saya masih sekolah, jadi saya jaga rumah. Kadang ijin bolak balik Indramayu-Jakarta juga. Masih terasa baru dalam ingatan saya, ketika melihat tubuh bapak yang tinggi besar itu, terbaring tak berdaya dengan penuh selang di ruangan ICU.

Sedih.. tentunya. Sebelum di vonis penyakit mematikan tersebut, bapak sudah down dan nampaknya sudah tahu ia akan segera dipanggil. Ia sempat bertanya pada mama, “Mah.. Bapak kalo meninggal, mama mau nikah lagi ga?”. What a romantic question! Menurut saya, bapak menginginkan berjodoh dunia akhirat dengan mama. Karena rasa cintai yang besar, beliau juga tidak inggin istrinya menikah lagi walaupun ia sudah tidak bersamanya dan tidak melihatnya.

Suka banget ngeliat mama dan bapak, bapak yang sangat perhatian, humoris, sayang keluarga, mama yang cool dan mandiri. Ketika saya menonton Habbie-Ainun, pas adegan Ibu Ainun sakit dan Pak Habbie setia menunggu di RS, saya pun menangis. I can feel it, rasa tidak mau kehilangan, rasa sedih, rasa sayang, ingat bapak. Mereka-lah Habbie-Ainun versi saya. Saya pun bisa mengambil nilai-nilai positif dari pola pengasuhan mereka sampai anaknya bungsunya sudah sebesar ini, ya walaupun nobody perfect.. 

Kadang saya sedih, belum sempat membahagiakan bapak. Mencicipi uang dari hasil jerih payah saya, tidak bisa melibatkan bapak dalam peristiwa-peristiwa penting anak-anaknya, belum bisa membalas semua perhatian dan semua yang telah ia berikan, walaupun memang saya tidak bisa membalas semua. Ah andai saja.. Padahal Allah sangat tidak suka kata “andai”, karena membuka amalam syaitan. Ok.. Maafkan saya kali ini Ya Allah, saya tarik kembali kata-kata tersebut.

“Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu”

“Ya Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia”

Kita akan menyadari betapa berartinya seseorang, ketika kita kehilangan orang tersebut. Jadi, untuk teman-teman yang orang tuanya masih komplit. Bersyukur lah. Bahagiakan mereka sebisa kalian, selama mereka masih hidup…

Dear Daddy, I may find a prince someday, but you will always be my king. Love you..

Advertisements

2 thoughts on “BAPAK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s