Mau jadi matahari?

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Penggalan puisi Rendra tersebut sungguh menohok, mengingat manusia suka berhitung matematis dalam melakukan kebaikan. Mungkin termasuk saya. Melakukan kebaikan dengan tulus ikhlas, niatan yang lurus dan menjadi bermanfaat bagi orang lain tentu bukan hal yang mudah.

Berbicara bermanfaat bagi orang lain, dapat di analogikan menjadi sebuah matahari yang menyinari dunia dan memberikan kehangatan, seperti lagu anak-anak dulu. Yang tak pernah sendiri dan tak pernah lelah menjalankan kewajibannya. Mungkin terlalu sombong, Jika kita mengibaratkan diri kita menjadi sebuah matahari. Karena matahari mempunyai peranan yang sangat penting bagi bumi tempat kita berpijak. Dapat kita bayangkan bukan, jika matahari sudah tidak bersinar, masih adakah kehidupan?

Dalam kehidupan sehari2, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi sebuah matahari kecil. Mungkin fungsinya tidak sevital fungsi matahari yang sesungguhnya. Namun, yang hendak saya tekankan disini adalah menjadi matahari untuk menjadi seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain untuk saling membantu dan saling menolong.

Sudahkan saya bermanfaat untuk orang lain? Pertanyaan ini pun pernah terbersit dipikiran saya beberapa hari yang lalu. Dikala kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan duniawi yang lain, merasa kian hari keimanan bukannya mengalami peningkatan, namun jalan di tempat, malah mengalami mengalami penurunan. Yah.. Turun naik itu hal yang wajar. Namun bagaimana cara kita untuk bangkit kembali.

Teringat pertanyaan yang dilontarkan seorang wanita setengah baya di kajian Aa Gym di sebuah masjid di kawasan BSD tadi pagi

“Aa.. Di dompet saya ada uang 50 ribu dan 5 ribu. Seperti biasa jika ada minta2 lewat maka saya reflex akan memberikan yang 5 ribu. Yang akan saya tanyakan, dalam Islam berapa hitungan matematis yang harus saya keluarkan, mengingat kita tidak boleh kikir namun juga harus realistis dengan kemampuan?”.

Aa Gym berkata tidak ada batasannya, bisa mengikhlaskan semuanya, ½ atau 1/3. Jadi itu semua tergantung tingkat keimanan seseorang. Karena tingkat keimanan seseorang berbeda2.

Lalu apa korelasinya. Tentu ada, jika anda bertanya mulai dari mana kita harus mengimplementasikan? Ingatlah kembali kutipan diatas bahwa tingkat keimanan seseorang berbeda2. Maka mulailah dri yang kecil2, sebisa anda membantu sesama dan jadilah sebuah matahari kecil bagi orang2 disekitar anda.. J

Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s